Nasionalisme Tergerus Demokrasi Tidak Beretika

Nasionalisme Tergerus Demokrasi Tidak Beretika

Bung Karno pernah berpesan : “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”.  Kekawatiran Bung Karno tersebut saat ini semakin nyata terlihat. Musuh terbesar yang merongrong  keselamatan bangsa dan negara saat ini, muncul dari dalam bangsa sendiri, antara lain ditandai dengan menurunnya semangat nasionalisme, rendahnya militansi, serta menurunnya jati diri dan kultur bangsa ini. Nasionalisme sebagian bangsa ini tampaknya sudah mulai tergerus oleh eforia demokrasi. Hal ini tampak ketika para mahasiswa yang hendak berdemo tanpa beretika menerobos masuk tempat upacara bendera peringatan 17 Agustus di beberapa daerah dan terjadi hampir setiap tahun. Padahal larangan demonstrasi saat adanya upacara bendera telah diatur dalam Undang-Undang 9 Tahun 1998.

Sekitar 60 mahasiswa dari Universitas Lampung berusaha menerobos masuk dan  berunjuk rasa di Stadion Olahraga Way Halim saat dilangsungkannya upacara penurunan bendera Merah Putih, Rabu (17/8) sore.  Cerita mengenaskan lainnya puluhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) terlibat adu jotos bersama satpam kampus tersebut. Mahasiswa yang terpelajar itu memaksa masuk lapangan upacara saat sedang berlangsung upacara pengibaran bendera. Mahasiswa tidak terima aksi demonya dilarang oleh pihak keamanan kampus. Saat itu, kampus UI tengah menggelar upacara kemerdekaan RI. Sebelumnya sekitar 30 mahasiswa sambil meneriakan orasi itu memaksa masuk di area tempat upacara. Satpam kampus kemudian mencoba menghentikan aksi demo para mahasiswa tersebut.

Saat ini tampaknya kekuatan rakyat sangat dominan. Bahkan etika, moral dan aturan hukum diinjak-injak demi demokrasi keblabasan yang telah diyakini banyak pihak khususnya oleh sebagian mahasiswa itu. Kekuatan rakyat yang tanpa etika dan aturan itu sangat mungkin menjadi kontraproduktif yang akan menghancurkan bangsa ini. Fanomena itu mulai tampak bahwa saat ini demonstrasi rakyat berubah jadi brutal contoh paling tragis penyerangan beberapa polsek dan membunuh tahanan dalam kantor polisi. Demo terhadap PLN pun marak dimana-mana, bahkan sebagian pendemo menyandera pimpinan PLN. Contoh lain adalah adalah demo 100 hari SBY tahun lalu, banyak kasus menyedihkan dimana mobil plat merah digedor-gedor dan diinjak-injak, membakar ban dan menutup jalan, melempar polisi, memaksa masuk bertemu pejabat, membakar foto presiden, meneriakkan kata kasar terhadap simbol negara.  Contoh terakhir yang memiriskan, justru ditunjukkan oleh para mahasiswa yang dianggap kelompok masyarakat berintelektual.  Mahasiswa yang terpelajar itu, tanpa beretika menerobos masuk hendak berdemo di tempat upacara bendera peringatan hari lahirnya bangsa ini.

Memang tidak ada yang boleh membantah bahwa kebebasan berpendapat adalah dilindungi undang-undang tapi apakah berpendapat harus keblabasan, tidak beretika dan melanggar aturan hukum seperti itu. Tidak setuju dengan pemerintahan saat ini adalah sah-sah saja di negara demokrasi ini. Namun seharusnya hal itu dikembangkan dengan cara yang lebih arif dan bijak berupa komunikasi dan diskusi. Bila sarana itu tidak terwakili maka bukanlah tabu untuk melakukan demonstrasi, karena dijamin undang-undang. Tetapi hendaknya dengan cara beretika dan melanggar hukum itu sendiri. memaksakan kehendak para mahasiswa itu, dengan mengorbankan nasionalisme dan hak orang lain adalah bentuk pengebirian demokrasi itu sendiri.

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa “kebenaran politik”. Bersumber dari teori romantisme yaitu “identitas budaya”, debat liberalisme yang menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu. Nasionalisme itu harus dimiliki dan dipelihara setiap warga negara agar bangsa ini tetap utuh dan tahn terhadap guncangan apapun.

Dalam upacara bendera berbagai sesi acara yang di gelar, semuanya bertujuan untuk memupuk kedisiplinan dan jiwa nasionalisme. Mulai saat pasukan dibariskan dengan sangat rapi, sampai pembubaran barisan setelah selesai upacara bendera. Upacara bendera adalah kegiatan rutin yang dapat membangkitkan rasa nasionalisme. Berdiri dan menghormat kepada bendera sang saka merah putih dengan diiringi lagu Indonesia Raya adalah merupakan suatu pengalaman batin tersendiri. Bila hal itu dilakukan dengan khidmat akan membuat jiwa patriotisme dan rasa kebangsaan akan semakin dahsyat. Upacara bendera juga mengajarkan untuk mengenang jasa para pahlawan, mendoakannya, dan menyanyikan lagu-lagu nasional yang membuat peserta memahami sejarah bangsa Indonesia dan menanamkan jiwa patriotisme di kalangan anak muda.

Jangan sampai sarana pembelajaran untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang semakin jarang itu tergerus oleh demokrasi yang tidak beretika. Kalaupun hendak berdemo saat itu, sebaiknya mahasiswa bersabar menunggu upacara selesai. Dengan memaksakan berdemonstrasi di sekitar lapangan upacara bukan hanya melanggar etika dan hukum, Tetapi lebih bahaya lagi mahasiswa sudah dengan mudah mengorbankan simbol nasionalisme. Perilaku buruk mahasiswa itu bukan hanya tidak menghormatio simbol nbangsa tetapi juga menghina perjuanagan para pahlwannya dengan seluruh juwa raganya demi mengibarkan merah putih di bumi ini. Pertarauhan nyawa dan darah para pahlawan itu dengan seenaknya  dihina oleh para mahasiswa yang mengacaukan upacara khidmat tersebut.

Dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan nasional yang begitu berat dan kompleks saat ini semua pihak harus bersatu menjunjung tinggi etika dan hukum. Dilain pihak bangsa masih harus mengejar ketinggalan dari negara-negara tetangga dalam hal pembangunan manusia dan negaranya. Segala lapisan masyarakat harus mempunyai nilai nasionalisme, militansi dan jati diri bangsa berjuang bersama-sama bekerja keras membangun bangsa ini.

Perlu lebih dituangkan secara nyata dan diaktualisasikan lebih konkrit, lebih responsif dan lebih akomodatif untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Apabila bangsa ini tidak mampu segera keluar dari permasalahan dan keadaan sekarang khususnya dalam membina nasionalisme generasi mudanya, maka disintegrasi bangsa akan segera menunggu waktunya. Jangan korbankan nasionalisme bangsa ini hanya demi demokrasi yang tidak beretika.

sumber : kompasiana, Widodo judarwanto

Suported By

My President My Hero

Sejukkan dan Majukan Indonesia dengan Opini Positif. Serukan opini dengan jujur, santun dan cerdas. Lebih baik memilih “Menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan”.

Aku Anak Indonesia yang Cinta Bangsa Ini. Aku Anak Indonesia bukan dari satu partai manapun, bukan dari satu golongan apapun atau dari kelompok lainnya. Aku Anak Indonesia yang hanya rakyat biasa.

Copyright@2012. My President My Hero: Informasi, Edukasi dan Opini Untuk Bangsa. All rights reserved

Pos ini dipublikasikan di Opini Rakyat dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s