Inilah Kisah 9 Wanita Cantik Isteri Bung Karno

Inilah Kisah 9 Wanita Cantik Isteri Bung Karno

Soekarno adalah seorang pengagum keindahan, khususnya wanita-wanita cantik. Ini diakuinya pada Cindy Adams. Selain itu, beliau penuh perhatian, romantis dan jago menulis puisi cinta, yang bisa membuat hati wanita berbunga-bunga.

Dr.(HC) Ir. Soekarno adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966.Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.Soekarno adalah penggali Pancasila karena ia yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai dasar negara Indonesia itu dan ia sendiri yang menamainya Pancasila.Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya – berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat – menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan.Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen.Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia

Inilah Kisah 9 Wanita Cantik Isteri Bung Karno

  1. Oetari (1921–1923) Saat bersekolah di Surabaya, Bung Karno dinikahkan HOS Tjokroaminoto dengan anak perempuannya Siti Oentari, saat itu Soekarno berumur 20 tahun sementara Siti Oentari 16 tahun. Namun perkawinan mereka tidak berlangsung lama, Soekarno tidak memiliki ketertarikan pada Oentari dan hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Siti Oetari adalah putri sulung Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam sekaligus merupakan istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Soekarno menikahi Oetari usianya belum genap 20 tahun. Siti Oetari sendiri waktu itu berumur 16 tahun. Soekarno menikahi Oetari pada tahun 1921 di Surabaya. Sewaktu itu Soekarno menumpang di rumah HOS Tjokroaminoto ketika sedang menempuh pendidikan di sekolah lanjutan atas. Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di THS (sekarang ITB). Soekarno kemudian menceraikan Oetari.
  2. Inggit Garnasih (1923–1943) Perempuan kedua dalam hidupnya adalah Inggit Garnasih, yang berstatus sebagai istri Sanoesi, induk semangnya sekaligus teman HOS Tjikroaminoto saat Soekarno melanjutkan sekolahnya ke ITB Bandung. Karena sering ditinggal suaminya dan tidak memiliki anak, sementara Soekarno juga kesepian karena baru berpisah dari istrinya maka terjadilah hubungan batin di antara keduanya. Soekarno menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Inggit seperti melihat cahaya dari pintu yang terkuak. Akhirnya Sanoesi menceraikan Inggit, maka menikahlah keduanya. Inggitlah yang menjadi istri, kawan perjuangan dan ibu bagi Soekarno. Perbedan usia diantara mereka 13 tahun. Inggitlah yang setia mengunjungi dan menyemangati Soekarno selama dibui di penjara Sukamiskin. Penjara sempit dan lembab namun menjadi sejarah ditulisnya pleidoi terkenal Soekarno yang berjudul “Indonesia Menggugat”. Mereka saling berkirim surat cinta mengungkap kerinduan melalui kertas yang digulung menyerupai rokok, karena saat itu untuk menyambung hidup, Inggit berjualan rokok. Ia juga menjadi perantara dan informan antara Soekarno dan para tokoh pergerakan lainnya. Inggit juga yang dengan setia menemani Soekarno selama diasingkan ke Ende dan Bengkulu, tempat ia bertemu Fatmawati. Inggit Garnasih adalah istri kedua Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Mereka menikah pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung. Pernikahan mereka dikukuhkan dengan Soerat Keterangan Kawin No. 1138 tertanggal 24 Maret 1923, bermaterai 15 sen, dan berbahasa Sunda. Sekalipun bercerai tahun 1942, Inggit tetap menyimpan perasaan terhadap Soekarno, termasuk melayat saat Soekarno meninggal.  Kisah cinta Inggit-Soekarno ditulis menjadi sebuah roman yang disusun Ramadhan KH yang dicetak ulang beberapa kali sampai sekarang. Ia terlahir dengan nama Garnasih saja. Garnasih merupakan singkatan dari kesatuan kata Hegar Asih, dimana Hegar berarti segar menghidupkan dan Asih berarti kasih sayang. Kata Inggit yang kemudian menyertai di depan namanya berasal dari jumlah uang seringgit. Diceritakan bahwa Garnasih kecil menjadi sosok yang dikasihi teman-temannya. Begitu pula ketika ia menjadi seorang gadis, ia adalah gadis tercantik di antara teman-temannya. Diantara mereka beredar kata-kata, “Mendapatkan senyuman dari Garnasih ibarat mendapat uang seringgit.” Banyak pemuda yang menaruh kasih padanya. Rasa kasih tersebut diberikan dalam bentuk uang yang rata-rata jumlahnya seringgit. Itulah awal muda sebutan “Inggit” yang kemudian menjadi nama depannya.
  3. Fatmawati (1943–1956) Fatmawati yang bernama asli Fatimah adalah istri dari Presiden Indonesia pertama Soekarno. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967 dan merupakan istri ke-3 dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. Fatmawati lahir dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Orang tuanya merupakan keturunan Puti Indrapura, salah seorang keluarga raja dari Kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.Ayahnya merupakan salah seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu. Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Soekarno, yang kelak menjadi presiden pertama Indonesia. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai lima orang putra dan putri, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra. Pada tahun 14 Mei 1980 ia meninggal dunia karena serangan jantung ketika dalam perjalanan pulang umroh dari Mekah yang lalu dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.
  4. Hartini (1952–1970) Wanita selanjutnya adalah Hartini, seorang janda dokter beranak lima. Ketika tahu anaknya sudah lima, komentar Soekarno “Wah, sudah punya anak lima saja masih cantik banget ..!” Mereka bertemu saat Soekarno berkunjung ke Salatiga. Pulang ke Jakarta, Soekarno tak bisa melupakan senyum Hartini. Maka Soekarno mengirimkan surat cinta secara rahasia melalui kurir pribadi terpercaya dengan nama samaran Srihana dan memanggil Hartini dengan nama Srihani. Ketika menikahi Fatmawati, orang masih maklum karena Ibu Inggit sudah tua dan tidak mampu memberikan keturunan. Namun ketika menikahi Hartini, menjadi tamparan keras bagi berbagai organisasi kewanitaan di Indonesia yang sedang menggelindingkan wacana anti poligami. Perkawinan Soekarno dan Hartini menimbulkan polemik di masyarakat. Bu Fatmawati memilih keluar dari istana sebagai bentuk protes dan tinggal di sebuah rumah di Jalan Sriwijaya serta bersumpah tak akan menginjakkan kaki ke Istana Negara lagi. Dan beliau konsisten dengan sumpahnya, ketika Presiden Soekarno wafat, Bu Fat tidak terlihat di Istana untuk memberikan penghormatan terakhir pada suaminya, hanya mengirimkan karangan bunga. Keinginannya agar jenazah Soekarno dikirim ke Jl. Sriwijaya kediamannya, ditolak oleh Presiden Soeharto. Hartini adalah tipikal wanita Jawa yang lemah lembut, pinter masak (sayur lodeh dan sambelnya yahud, kata Soekarno), penyabar, hebat di ranjang (menurut Soekarno yang diceritakan pada beberapa orang kepercayaannya. Buat yang belum 17 tahun, lewatkan kalimat ini ya. Hartini juga wanita yang nerimo (karena selama jadi isteri presiden, hanya sekali ke Istana Negara ketika mendengar Soekarno menikah lagi dengan Haryati, yang disebut pers sebagai ” Versi Hartini dengan cetakan yang lebih muda“  dan pengertian, karena ketika menerima lamaran Soekarno ia mensyaratkan Soekarno harus tetap menjadikan Fatmawati sebagai isteri pertama dan merelakan dirinya menjadi isteri kedua. Dari Hartini, Soekarno memiliki dua putera, yaitu Taufan dan Bayu, namun salah satunya sekarang sudah meninggal dunia) Soekarno mengakui kehebatan Hartini sebagai isteri yang ideal dan mampu diajak bertukar pikiran. Sebagai janda dokter, Hartini memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi. Berbakti pada suami, yang dibuktikannya saat Pak Karno sakit keras, Hartinilah yang setia mendampingi hingga Rahmawati yang semula benci, mengakui kelebihan ibu tirinya ini dan menjadi sayang. Soekarno berpesan, agar saat meninggal Hartini dimakamkan di samping makamnya di Blitar.
  5. Kartini Manoppo (1959–1968) Kartini Manoppo juga nama yang banyak dibicarakan orang. Bekas pramugari Garuda Indonesia ini pernah menjadi model lukisan Basuki Abdullah. Tatkala melihat lukisan itu, Sukarno mengagumi sang model, lantas memintanya ikut terbang setiap kali Presiden melawat ke luar negeri. Sekitar akhir 1959, pasangan ini menikah. Pada 1967, Kartini Manoppo melahirkan Totok Suryawan Sukarno, Bung Karno yang memberikan nama ini di Nurenberg, Jerman.
  6. Ratna Sari Dewi (1962–1970)  Ratna Sari Dewi Soekarno adalah istri ke-5 Soekarno yang merupakan Presiden Indonesia pertama. Dewi menikah dengan Soekarno pada tahun 1962 ketika berumur 19 tahun dan mempunyai anak yaitu Kartika Sari Dewi Soekarno. Dewi berkenalan dengan Soekarno lewat seorang relasi ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo. Menjelang redupnya kekuasaan Soekarno, Dewi meninggalkan Indonesia. Setelah lebih sepuluh tahun bermukim di Paris, sejak 1983 Dewi kembali menetap di Jakarta.  Ketika berumur 19 tahun, Dewi Soekarno bertemu dengan Soekarno yang telah berumur 57 tahun sewaktu sedang dalam kunjungan kenegaraan di Jepang. Sebelum menjadi istri Sukarno, ia adalah seorang pelajar dan entertainer. Ada gosip bahwa dirinya telah bekerja sebagai geisha, namun beliau telah berulang kali menyangkal hal ini. Dia mempunyai seorang putri bernama Kartika. Setelah bercerai dengan Sukarno, Ratna Sari Dewi Soekarno kemudian pindah ke berbagai negara di Eropa termasuk Swiss, Perancis, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2008 ia menetap di Shibuya, Tokyo, Jepang, di mana dia tinggal di sebuah tempat yang luas dengan empat lantai dan penuh kenangan. Ratna Sari Dewi Soekarno dikenal dengan kepribadiannya yang terus terang. Beliau sering disebut sebagai Dewi Fujin (Devi Fujin, secara harfiah “Ibu Dewi” atau “Madame Dewi”). Nama lengkapnya adalah Ratna Sari Dewi Soekarno, tapi dia lebih sering disebut sebagai “Madame Dewi”. Dia membuat penampilan di media massa setelah Januari 2008 kematian suaminya penerus Soeharto, menyalahkan dia untuk melembagakan sebuah rezim represif dan menyerupai Despotisme Kamboja, Pol Pot.  Pada tahun 2008 Ratna Sari Dewi Soekarno menjalankan sendiri bisnis perhiasan dan kosmetik serta aktif dalam penggalangan dana. Terkadang dia tampil di acara TV Jepang dan menjadi juri untuk kontes kecantikan, seperti Miss International 2005 di Tokyo.Pada bulan Januari 1992, Dewi menjadi terlibat di dalam banyak perkelahian dipublikasikan di sebuah pesta di Aspen, Colorado, Amerika Serikat dengan sesama tokoh masyarakat internasional dan ahli waris Minnie Osmeña, putri mantan presiden Filipina. Ketegangan sudah ada antara keduanya, dimulai dengan pertukaran di pihak lain beberapa bulan sebelumnya, di mana Dewi terdengar tertawa ketika Osmena menyatakan rencana politiknya, di antaranya adalah keinginan untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden Filipina. Aspen meludah yang konon dilaporkan oleh dipicunya sebuah kiasan yang dibuat oleh Dewi untuk Osmena di masa lalu yang kemudian memuncak dengan Dewi memukul wajah Osmena dengan memakai gelas anggur. Pukulan tersebut meninggalkan luka yang membutuhkan 37 jahitan.  Dewi kemudian dipenjara selama 34 hari di Aspen untuk perilaku kacau setelah kejadian.Pada tahun 1998, ia berpose untuk sebuah buku foto berjudul Madame Syuga yang diterbitkan di negara asalnya, di mana sebagian gambar yang ditampilkan ia pose-pose setengah bugil dan menampakan seperti tato. Bukunya untuk sementara tidak didistribusikan di Indonesia dan segera dilarang karena dengan banyak orang Indonesia merasa tersinggung dengan apa yang dianggap mencemarkan nama baik Sukarno dan warisannya
  7. Haryati (1963–1966) Haryati dinikahi secara resmi oleh Soekarno pada 21 Mei 1963 lewat KUA Gambir.  Hartati yang seorang penari istana, menyerah tanpa syarat pada rayuan maut sang  presiden berkuasa kala itu. Hatinya berbunga – bunga saat sang presiden  memanggilnya dengan sapaan mesra ” wong ayuku ” atau ” cintaku “.
  8. Yurike Sanger (1964–1968) Yurike Sanger, seorang ABG kelas dua SMA berusia 16 tahun yang menjadi bagian dari Barisan Bhineka Tunggal Ika. Yurike seorang gadis pemalu keturunan Indonesia Timur. Ketika ditanya namanya, dan menjawab Yurike, Pak Karno berkata ” Namamu Yuri saja ya, lebih Indonesia! Tidah usah pakai Ke, jadi kebarat-baratan.”  Yurike tak pernah menyangka kalau Presiden Soekarno apel ke rumahnya. Ayah Yurike juga mengira yang dia hadapi adalah ajudan presiden.  Pada Yurike, Presiden Indonesia yang flamboyan ini berjanji menjadikannya isteri terakhir.
  9. Heldy Djafar (1966–1969) Isteri terakhir yang dinikahi secara rasmi oleh Sukarno ialah Heldy Djafar. Mereka menikah setahun sebelum kejatuhannya sebagai presiden pada tahun 1967. Heldy Djafar adalah wanita yang terpesona oleh aura sang presiden saat Soekarno  sedang terpuruk – terpuruknya. Dia dinikahi pada Bung Karno tahun 1966. Saat itu  dia berusia 18 tahun dan Soekarno 65 tahun. Perkawinan dengan Heldy hanya berlangsung selama dua tahun karena selepas kejatuhannya Sukarno masuk ke dalam tahanan di Wisma Yaso, Jakarta.

Suported By

My President My Hero

Sejukkan dan Majukan Indonesia dengan Opini Positif. Serukan opini dengan jujur, santun dan cerdas. Lebih baik memilih “Menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan”.

Aku Anak Indonesia yang Cinta Bangsa Ini. Aku Anak Indonesia bukan dari satu partai manapun, bukan dari satu golongan apapun atau dari kelompok lainnya. Aku Anak Indonesia yang hanya rakyat biasa.

Copyright@2012. My President My Hero: Informasi, Edukasi dan Opini Untuk Bangsa. All rights reserved

Tulisan ini dipublikasikan di Ibu Negara dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s